Selasa, 24 Juli 2012


TARIAN HEDUNG DARI SUKU LAMAHOLOT
A.  Selayang Pandang
Tarian Hedung  adalah tarian perang yang berasal dari Adonara. Sejarah mencatat,  Zaman dahulu orang Adonara terkenal dengan perang tanding; perang antar keluarga, antar suku atau antar kampung. Penyebab paling pertama terjadinya perang adalah persoalan batas wilayah, dan hak atas kepemilikan tanah. Dari corak, tarian ini terbagi dalam tiga jenis:
1.      Hedung Tubak Belo (menggambarkan perang tanding).
Tarian ini dilakukan ketika hendak berperang. Secara komunal masyarakat Adonara mulai berkumpul dan melangsungkan ritual adat yang diselingi dengan tarian Hedung di rumah adat. Ritual adat dan tarian ini sendiri merupakan bentuk permohonan (doa) masyarakat adonara yang dipanjatkan kepada Rela Wulan Tana Ekang (langit dan bumi), agar dilimpahkan keselamatan dan kemenangan bagi masyarakat Adonara yang akan bertempur di medan laga.
2.      Hedung Hodi Kotek (menggambarkan acara penjemputan perang yang membawa kepala sebagai tanda kemenangan).
Tarian ini dilakukan ketika pasukan yang diutus kembali dengan kemenangan. Para penari biasanya menjemput pasukan yang membawa kepala sebagai tanda kemenagan, dengan iringan tari-tarian mulai dari pintu gerbang kampung  sampai ke rumah adat untuk prosesi atau upacara selanjutnya.
3.       Hedung Mageneng Kabeleng (menggambarkan acara penerimaan tamu).
Tarian ini dilakukan pada saat kedatangan tamu agung (orang besar). Melambangakan sikap hormat dan pengahargaan (respek) masyarakat Adonara terhadap tamu yang datang.
Peralatan yang digunakan dalam membawakan tarian ini antara lain: Kanube (parang), Gala (tombak atau lembing), Doopi (Perisai), Kenobo (perhiasan di kepala terbuat dari daun kelapa atau daun lontar), Gasing (alat yan dipasang pada pergelangan kaki, yang berbunyi jika kaki dihentakan), Gong bawa (gong gendang), Gong Inang (gong induk), Gong Anang (gong anak atau kecil), Keleneng dan Tmirung, dan Gendang.
Para penari memiliki busana khusus pada saat membawakan tarian ini. Busana yang dikenakan penari tersebut dirinci dalam beberapa jenis  yaitu: Nowing (kain sarung tenun asli daerah yang dipakai kaum pria), Kelala (ikat pinggang), dan Senai (kain selendang tenun asli daerah). Penari berjumlah tidak tentu, sesuai dengan kebutuhan. Namun biasanya paling sedikit lima orang. Penari  yang posisinya paling depan umumnya bertindak sebagai pemandu.
B.  Tarian Hedung dan Transformasi Logis
1.    Tarian Hedung dan transformasi eksistensi
Pemaparan singkat tentang tarian hedung pada sub bahasan diatas, sekiranya menjadi dasar pijak atau dasar tolak untuk melihat seberapa jauh tarian ini telah mengalami transformasi atau perubahan. Eksistensinya, tarian ini tidak mengalami perubahan berarti. Gerakan-gerakan tarian hegong sendiri mutlak tidak mengalami perubahan, demikian pun dengan peralatan tari yang digunakan. Hanya dalam beberapa pertunjukan kita dapat menjumpai para penari yang tidak lagi menggunakan Nowing (kain sarung adat yang digunakan penari) tetapi kain biasa. Tidak ada alasan mendasar mengapa terjadi demikian, tetapi kelompok berusaha memberikan sedikit analasis terhadap fenomena ini.
Perkembangan dan kemajuan teknologi memiliki dampak terhadap perubahan-perubahan sosial yang terkajadi dalam masyarakat. Demikian pun yang dialami masyarakat Adonara. Masuknya komoditas-komoditas luar berimbas pada lengsernya kedudukan kerajinan lokal yang ada dalam masyarakat Adonara. Hal ini berpengaruh pada melemahnya etos kerja masyrakat, terutama dalam menciptakan kerajinan-kerajinan lokal. Pada akhirnya pasar komoditas luar mendapat tempat khusus dalam kehidupan masyarakat setempat. Oleh karena itu menjadi sulit pada generasi sekarang untuk menemukan kerajinan-kerajinan lokal seperti tenunan asli. Demikian analisis kelompok terhadap fenomena yang terjadi.
2.    Tarian Hedung dan Tranformasi Esensi
  Bahwasannya ketika kita mulai mengkaji lebih dalam ternyata esensi dari tarian hegong telah sedikit demi sedikit mengalami pergeseran atau perubahan (transformasi), yang dinilai cukup signifikan
a.       Konteks Waktu
Dewasa ini, pertunjukan tarian hedung tidak lagi berlangsung hanya ketika terjadi perang tanding. Dalam beberapa moment tarian hegong sudah dipertunjukan sebagai bentuk hiburan rakyat. Misalnya ketika menjemput tamu agung, dan menjadi tarian tahunan menyambut datangnya tahun baru serta ketika berlangsung acara adat besar lainnya.
Hal ini terjadi semenjak pemerintah mulai mengintervensi kehidupan sosio-kultural masyarakat setempat. Dalam banyak kasus, kecenderungan pemerintah untuk turut terlibat terhadap persoalan-persoalan yang terjadi dalam masyarakat, terutama yang sifatnya provokatif (berpotensi melahirkan konflik) misalnya persoalan hak ulayat dan batas tanah (wilayah) menjadi sangat besar. Dengan demikian solusi yang dipakai menjadi bervariatif demi menghindari terjadinya pertumpahan darah. Pada masa inilah orang-orang Adonara mulai meninggalkan tradisi perang tanding sebagai jalan keluar terhadap masalah hak ulayat atau batas tanah.
Mengurangnya frekuensi perang tanding yang terjadi di Adonara, pada akhirnya berdampak pula terhadap keberlangsungan hidup tarian hedung itu sendiri. Mensiasati ketakutan punahnya tarian ini, maka masyarakat Adonara mulai mencari cara untuk menjaga kelesatarian hedung, antara lain dengan menerapkan cara-cara seperti yang telah kelompok paparkan diatas.
b.      Pergeseran Nilai dan Orientasi
Perkembangan terakhir menunjukan bahwa telah terjadi tranformasi nilai dan orientasi kulturalis dalam tubuh tarian hedung. Nilai dan orientasi itu sendiri sebenarnya termaktub dalam pemakanaan atau makna terian tersebut; membahasakan apa tarian hedung pada taraf sebenarnya?
Menurut keyakinan masyarakat setempat (masyarakat Adonara), selain sebagai ungkapan penghormatan terhadap tamu agung yang mengunjungi wilayah mereka, tarian ini  juga sebenarnya merupakan untaian doa permohonan dan syukur terhadap Rela Wulan Tanah Ekan (panguasa langit dan bumi). Permohonan yang dimaksud adalah permohonan atau permintaan agar diberikan berkat keselamatan dan kemenangan bagi laskar adat atau suku ketika berlaga dimedan perang, dan pengertian syukur itu sendiri merujuk pada syukur atas karunia kemenangan yang diperoleh.
Pengertian pergeseran nilai dan orientasi yang dimaksudkan kelompok sebenarnya menitikberatkan pada konteks doa permohonan dan syukur sebagai pemaknaan terhadap simbol dari masyarakat Adonara. Dewasa ini Hedung dipahami sebagai tarian penghormatan terhadapa arwah leluhur yang mati atau telah mengorbankan jiwa raganya ketika bertempur (perang tanding). Terkandung syukur dan permohonan tetapi dalam konteks yang berbeda. Permohonan yang dipahami saat ini adalah permohonan keselematan jiwa bagi leluhur tersebut, dan syukur sendiri adalah syukur atas karunia dan berkat yang boleh diterima masyarakat sepanjang perjalanan hidup masyarakat Adonara  baik sebagai komuninitas maupun sebagai individu.
Alasan untuk menjawabi pertanyaan mengapa hal ini terjadi; masih berkaitan dengan alasan yang dipaparkan pada poin pertma diatas yakni ketika pemerintah mulai mengintervesnsi kehidupan masyarakat, kemudian berimpact pada masyarakat mulai meninggalkan perang tanding, selanjutnya timbul kesadaran masyarakat terhadap upaya melestarikan tarian ini, dan berimbas juga pada penilaian atau pemaknanaan itu sendiri.
C.  Penutup
Pada semua bentuk kebudayaan, fenomena yang disebut sebagai transformasi atau perubahan menjadi sesuatu yang tidak terelakan. Sifat kebudayaan yang dinamis; yang senantiasa mengikuti perubahan pola hidup atau kehidupan sosial masyarakat, demi pemenuhan kebutuhan hidup manusia itu senadiri, berandil pada perubahan yang terjadi pada bentuk kebudayaan itu sendiri, baik secara eksistensi maupun esensinya.
Demikian pun yang terjadi pada tarian Hedung (tarian adat orang Adonara). Perkembangan zaman secara mengglobal yang dibarengi dengan perkembangan cara berpikir manusia telah menyebabkan perubahan yang sangat signifikan dalam diri terian tersebut. Seperti yang dipaparkan diatas bahwa perubahan itu sendiri terjadi baik pada tataran eksistensi  maupun pada tataran esensi tarian itu sendiri.
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa rangkaian kebutuhan kompleks manusia serta perkembagan arus peradaban yang mengglobal merupakan faktor penting terhadap lahirnya fenomena atau gejala perubahan pada kebudayaan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar